Floresaktual.com, GUNUNGKIDUL — Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), disiapkan menjadi lokasi pengembangan pabrik bioetanol. Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah menyiapkan bantuan benih jagung bagi petani sebagai bagian dari pengembangan bahan baku energi terbarukan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi juga mendorong penguatan ketahanan energi melalui pengembangan komoditas pertanian. Tiga komoditas yang dikembangkan untuk mendukung produksi bioetanol ialah jagung, singkong, dan tebu.
“Bapak Presiden sudah perintahkan untuk penguatan energi melalui biofuel etanol. Itu doakan agar berjalan dengan baik,” kata Amran saat berkunjung ke PT Widodo Makmur Unggas di Kalurahan Pacarejo, Semanu, Kamis (15/10/2026).
Menurut Amran, pengembangan komoditas tersebut diharapkan melibatkan petani secara langsung dalam penyediaan bahan baku energi terbarukan.
“Tanaman yang dikembangkan sudah sangat erat dengan masyarakat, khususnya para petani,” katanya.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntarningsih, mengatakan pemerintah kabupaten siap mendukung program ketahanan energi yang digagas Kementerian Pertanian. Menurut dia, Gunungkidul menjadi salah satu dari 42 kabupaten yang ditunjuk pemerintah pusat untuk mendukung pengembangan energi berbasis tanaman.
Gunungkidul disebut menjadi satu-satunya wilayah di DIY yang masuk dalam program tersebut. Sementara itu, di Jawa Tengah, kabupaten yang disebut ikut dalam program adalah Pati dan Wonogiri.
“Untuk DIY hanya Gunungkidul. Sedangkan, Jawa Tengah yang ikut program adalah Kabupaten Pati dan Wonogiri,” kata Endah.
Petani Disiapkan Menanam Jagung
Endah menjelaskan kunjungan Menteri Amran ke Gunungkidul juga berkaitan dengan rencana pengembangan pabrik bioetanol. Pemerintah ingin memastikan sosialisasi kepada petani mengenai penanaman jagung sebagai bahan baku telah dilakukan.
“Beliau [Menteri Amran] ingin memastikan Gunungkidul sebagai calon lokus pabrik bioethanol sudah melakukan sosialisasi ke petani untuk penanaman jagung sebagai bahan baku dari sumber energi terbarukan ini,” katanya.
Menurut Endah, sosialisasi kepada petani telah dilakukan dan bantuan benih untuk lahan seluas 8.500 hektare telah disiapkan. Penanaman direncanakan berlangsung pada awal musim hujan, yang diperkirakan datang pada akhir tahun.
“Ada bantuan benih sebanyak 8.500 hektare dan akan ditanam di awal musim hujan,” katanya.
Selain alokasi tersebut, Gunungkidul akan memperoleh tambahan bantuan benih jagung untuk lahan seluas 1.000 hektare. Namun, tambahan bantuan itu masih dalam proses pendataan calon petani dan calon lahan.
“Ini masih dalam proses pendataan calon petani dan calon lahan untuk mendapatkan bantuan guna mendukung program ketahanan energi di Gunungkidul,” katanya.
Dengan demikian, dukungan benih yang disebutkan mencakup alokasi untuk 8.500 hektare serta tambahan 1.000 hektare yang masih dalam proses pendataan. Kesiapan petani, lahan, dan pasokan jagung menjadi bagian penting dalam rencana pengembangan industri bioetanol di Gunungkidul.

Leave a Reply