Mengeja Sunyi di Kanvas Anca

Mengeja Sunyi di Kanvas Anca
Ilustrasi Cerpen berjudul Mengeja Sunyi di Kanvas Anca. (Istimewa)

Dunia adalah sebuah orkestra yang rusak, dan Anca adalah satu-satunya penonton yang kehilangan partitur.

Di panti asuhan “Griya Asih”, pagi tidak pernah datang dengan suara kicau burung atau derit pintu yang berkarat. Bagi Anca, pagi datang melalui tamparan cahaya matahari yang menyelinap di sela ventilasi, mengenai kelopak matanya yang terpejam. 

Ia bangun dalam sebuah ruang yang hampa dari bunyi, namun penuh dengan getaran. Ia bisa merasakan lantai kayu yang berdenyut saat anak-anak lain berlarian di lorong, atau dentum halus di dinding saat pintu utama ditutup dengan keras.

Anca adalah sebuah mahakarya yang ditinggalkan di lobi rumah sakit dua puluh tahun lalu, tepat setelah seorang dokter dengan raut wajah masam memvonis bahwa gendang telinganya hanyalah selaput mati.

Orang tuanya yang hingga kini hanya ia kenal sebagai bayangan buram dalam mimpi buruk memilih untuk meletakkannya di tangan orang asing. Mereka tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa putri mereka tidak akan pernah bisa memanggil nama mereka. Bagi mereka, Anca adalah kesalahan cetak. Padahal, Tuhan tidak pernah salah memegang kuas.

***

Sering kali Anca berdiri di balkon lantai dua panti, menatap jalan raya yang padat di pusat kota Bandung yang tak pernah tidur. Di matanya, manusia adalah makhluk yang sangat sibuk dan berisik. 

Ia melihat mulut-mulut yang bergerak cepat, urat leher yang menegang saat seseorang berteriak di telepon genggam, dan tawa yang dipaksakan di balik kaca cafe seberang jalan.

Apakah perbedaan terlihat buruk di mata manusia? tanyanya dalam hati sembari jemarinya meraba pagar besi yang bergetar hebat akibat knalpot motor yang melintas. Apakah persamaan terlihat begitu menyenangkan sehingga mereka semua berlomba-lomba untuk menjadi seragam?

Anca sering melihat anak-anak panti lainnya saling menghancurkan hanya untuk mendapatkan perhatian pengasuh. Ada Riko yang selalu merusak mainan anak lain agar dialah yang paling menonjol, atau Sinta yang gemar membisikkan kebohongan agar temannya dihukum. 

Mereka berebut porsi nasi yang lebih banyak, atau sekadar berebut posisi duduk paling depan saat ada donatur datang. Mereka egois. Mereka ingin menjadi yang paling dominan di dalam “kebisingan” yang mereka ciptakan sendiri.

Anca pernah mencoba menjadi seperti mereka. Suatu kali, ia mencoba bersuara, mengeluarkan bunyi parau dari tenggorokannya yang kaku agar dianggap “ada”. Namun, suara itu terdengar aneh, seperti gesekan logam yang berkarat. 

Yang ia dapatkan hanyalah tatapan iba yang menyakitkan dari para pengasuh atau lebih buruk tatapan jijik dari anak-anak lain yang menganggapnya aneh. Manusia sering kali patah dan jatuh justru karena manusia lainnya. Dan Anca, ia patah karena ia tidak bisa menemukan frekuensi yang sama dengan dunia di luar sana.

***

Pertanyaan “Kenapa aku terlahir seperti ini?” adalah hantu yang paling rajin mengunjunginya setiap malam. Ia melihat saudara-saudara jauh di panti yang memiliki pendengaran sempurna, namun mereka justru menggunakan telinga mereka untuk mendengarkan kebencian, dan mulut mereka untuk menyebarkan luka. Ia merasa asing. Kita memang tidak pernah bisa memilih terlahir seperti apa; semua seolah sudah digariskan oleh jemari tak terlihat di atas sana.

Suatu sore, saat hujan turun tanpa suara namun terasa lewat dingin yang menusuk kulit, Ibu Rahma menghampiri Anca di perpustakaan kecil panti. Ibu Rahma adalah satu-satunya orang yang bersedia belajar sedikit bahasa isyarat untuk menyapa Anca setiap pagi. Ia menyodorkan sebuah buku usang bersampul cokelat yang sudut-sudutnya sudah melengkung.

Di salah satu halamannya, Anca menemukan sebuah kalimat yang membuatnya terpaku, seolah jantungnya berhenti berdetak sejenak: “Tuhan adalah sebaik-baiknya seniman, dan kau adalah sebaik-baiknya mahakarya.”

Anca meraba permukaan kertas itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Dadanya sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Selama ini ia menganggap sunyi yang ia huni adalah sebuah penjara, sebuah tembok tebal yang memisahkannya dari kebahagiaan manusia normal. 

Namun, kalimat itu mengubah sudut pandangnya. Jika Tuhan adalah seorang seniman, maka tidak ada garis yang salah gores. Jika ia adalah mahakarya, maka ketidakmampuannya mendengar bukanlah sebuah cacat, melainkan sebuah gaya yang unik seperti lukisan abstrak yang tidak semua orang bisa memahaminya.

Mungkin, sunyi yang ia miliki adalah cara Tuhan melindunginya dari kata-kata jahat manusia yang sering kali lebih tajam dari pisau. Tuhan tahu Anca mampu melewati jalan yang sepi ini. Tuhan telah menyusun cerita hidupnya dengan komposisi yang tidak dimengerti oleh orang awam yang hanya memuja keseragaman.

***

Anca mulai melukis. Karena ia tidak bisa mendengar musik dari alat musik, ia menciptakan musiknya sendiri di kanvas. Ia mulai menyadari bahwa setiap suara memiliki warna jika dirasakan melalui getaran.

Ia melukis tentang rupa suara hujan; bukan bunyi tik-tik, melainkan ribuan titik biru laut yang menari di atas atap seng. Ia melukis rupa suara amarah; goresan merah menyala yang tajam dan kasar seperti pecahan kaca. Ia juga melukis rupa suara cinta; gradasi jingga yang hangat seperti pelukan matahari sore di panti asuhan.

Suatu hari, panti asuhan kedatangan seorang kurator seni yang sedang mencari bakat-bakat terpendam di panti-panti sosial. Pria itu, Pak Baskoro, berhenti di depan kanvas Anca yang berjudul “Sunyi yang Ramai”. Di sana, Anca melukiskan wajahnya sendiri yang sedang memejamkan mata, namun dari telinganya keluar bunga-bunga berwarna-warni yang mekar.

Pak Baskoro menatap lukisan itu lama sekali tanpa berkedip. Anca melihat bibir pria itu bergerak-gerak, mungkin ia sedang bergumam kagum atau justru mencela. Pak Baskoro kemudian mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di aplikasi catatan, lalu menunjukkannya kepada Anca:

“Lukisanmu sangat berisik, Anca. Aku bisa mendengar tangisan, harapan, dan tawa di dalamnya. Kamu tidak butuh suara untuk memberitahu dunia bahwa kamu ada.”

Anca tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Untuk pertama kalinya, perbedaannya tidak terlihat buruk dimata manusia lain. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin menjadi seperti orang lain yang punya pendengaran sempurna. Ia merasa utuh. 

Manusia memang sering kali tidak pernah merasa puas dengan dirinya sendiri, mereka mencari-cari kekurangan di balik cermin, padahal mereka adalah hasil karya terbaik jika mereka mau berhenti sejenak untuk melihat ke dalam.

***

Anca kini mengerti sepenuhnya. Manusia sering kali menghancurkan manusia lainnya hanya untuk mencari apa yang mereka inginkan, atau untuk menutupi rasa minder mereka sendiri. Mereka saling sikut dalam keramaian yang sia-sia.

Setiap manusia adalah potongan puzzle dalam skenario besar Tuhan. Perbedaan bukanlah musibah, melainkan variasi warna agar dunia tidak berubah menjadi abu-abu yang membosankan. 

Persamaan mungkin terasa aman bagi mereka yang takut pada ketidaktahuan, namun perbedaan adalah keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah arus yang menyeragamkan.

Malam itu, Anca duduk di pojok ranjangnya. Ia mematikan lampu kamar. Di dalam gelap yang kini menyatu dengan sunyinya, ia tidak lagi merasa ketakutan. 

Ia adalah Anca, seorang gadis Tuli yang tidak lagi mempertanyakan takdirnya. Ia adalah mahakarya yang sedang bercerita melalui diamnya.

Dunia mungkin tetap akan berisik, manusia di luar sana mungkin tetap akan egois dan saling menyakiti. 

Namun, Anca sudah memiliki dunianya sendiri. Sebuah dunia di mana sunyi adalah melodi paling jujur yang pernah diciptakan Tuhan.

 Ia menutup matanya, merasakan detak jantungnya sendiri yang berdenyut tenang sebuah irama kehidupan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri.

***

Asyfi Ramadhani, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang memiliki minat besar dalam penulisan kreatif dan sastra. Dapat disapamelalui surel: afirmdhnii20@gmail.com atau Instagram @he3yafi 

Pengumuman Penerimaan Cerpen

Redaksi menerima kiriman cerpen dari para penulis dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Naskah dikirim dalam bentuk file attachment (lampiran), bukan ditulis langsung di badan surel.

2. Kirim ke alamat surel redaksi@daerah.co.id.

3. Panjang naskah 1.200 hingga 1.700 kata.

4. Kirim satu naskah saja dalam satu kali pengiriman. Kami tidak menerima kiriman beberapa cerpen dalam satu kali kiriman lewat surel.

5. Pastikan naskah belum pernah dimuat di media lain.

6. Sertakan data-data sebagai berikut:

-Nama lengkap

-Alamat surel aktif

-Alamat media sosial

-Nomor rekening (beserta nama pemilik rekening) dan NPWP

Leave a Reply