Floresaktual.com, TEHERAN — Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran dilaporkan tidak hanya berdampak pada target militer, tetapi juga merusak ratusan situs budaya dan institusi pendidikan di berbagai wilayah negara tersebut.
Laporan Aljazeera mencatat sedikitnya 56 situs warisan budaya mengalami kerusakan, termasuk museum dan bangunan bersejarah. Serangan juga berdampak pada sektor pendidikan dengan sekitar 30 universitas dan 55 perpustakaan turut mengalami kerusakan.
Sementara itu, Anadolu Agency melaporkan sekitar 140 situs bersejarah di 20 provinsi Iran rusak akibat serangan yang terjadi sejak 28 Februari hingga 7 April 2026. Kerugian material akibat kerusakan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 49 juta dolar AS.
Pemerintah Iran menggambarkan kerusakan ini sebagai ancaman serius terhadap identitas budaya dan sejarah bangsa. Sejumlah situs penting, termasuk kompleks bersejarah dan pusat kebudayaan di berbagai kota, dilaporkan turut terdampak serangan.
Tanggapan keras juga datang dari kalangan seniman dan budayawan Iran, Neda Zoghi. Ia menyebut serangan terhadap situs budaya sebagai “kejahatan terhadap masa depan.”
“Ketika rusak atau hancur, setiap anak sekolah di Teheran, setiap mahasiswa seni di Berlin, setiap arkeolog di Kairo kehilangan sesuatu. Perusakan warisan budaya merupakan kejahatan masa depan, bukan hanya untuk masa kini,” ujar Zoghi dalam laporan resmi IRNA, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, serangan tersebut tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga memutus warisan sejarah yang menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat. Kekhawatiran juga muncul karena kerusakan tersebut dapat berdampak jangka panjang terhadap generasi mendatang.
Selain situs budaya, laporan internasional juga menunjukkan bahwa infrastruktur pendidikan dan pengetahuan turut menjadi korban. Sejumlah universitas besar dan pusat riset dilaporkan rusak akibat serangan udara, termasuk laboratorium dan ruang belajar.
Kerusakan juga meluas ke sekolah dan perpustakaan yang menyimpan arsip penting serta sumber pengetahuan publik.
Serangan terhadap fasilitas pendidikan dinilai memperburuk konflik karena menghambat akses pendidikan serta mengancam keberlangsungan dokumentasi sejarah dan ilmu pengetahuan di Iran.
Lebih dari 200 akademisi dan pakar budaya dunia dilaporkan mengecam kerusakan situs warisan Iran dan mendesak adanya perlindungan terhadap aset budaya dalam konflik bersenjata.
Mereka memperingatkan bahwa serangan tersebut tidak sejalan dengan hukum internasional yang melarang penargetan situs budaya.
Konflik ini sendiri merupakan bagian dari perang yang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Israel menyerang wilayah Iran yang kemudian diikuti keterlibatan Amerika Serikat.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa perang tidak hanya menimbulkan korban jiwa atau kerusakan infrastruktur militer, tetapi juga menyebabkan hilangnya warisan budaya dan pengetahuan yang menjadi bagian penting dari identitas suatu bangsa.

Leave a Reply