Floresaktual.com, MAGETAN — Cuaca panas yang melanda Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dalam beberapa waktu terakhir mulai mengganggu aktivitas warga. Suhu udara yang mencapai 36 derajat Celsius membuat petani hingga pekerja harus menyesuaikan kebiasaan sehari-hari, mulai dari menambah persediaan air minum hingga berangkat bekerja lebih pagi.
Sukiyo, petani cabai asal Kecamatan Plaosan, mengaku harus membawa air minum hingga dua kali lipat dibandingkan biasanya saat pergi ke sawah. Ia juga mengenakan pakaian panjang, topi, dan kaus kaki untuk melindungi tubuh dari paparan sinar matahari.
“Panas banget akhir-akhir ini. Saya kalau ke sawah hampir pasti membawa empat botol besar air dingin. Padahal ini wilayah dataran tinggi, ya. Tahun ini panas banget,” ujarnya, Jumat (16/10/2026).
Keluhan serupa disampaikan Jazuli, petani asal Kecamatan Kartoharjo. Ia mengatakan debit air di hamparan sawahnya mulai menurun. Kondisi tersebut membuatnya harus lebih cermat mengatur waktu bekerja, terutama ketika matahari mulai terik.
Jika biasanya baru pulang dari sawah pukul 10.00 WIB, kini Jazuli memilih menyelesaikan pekerjaannya lebih awal agar tidak terlalu lama terpapar panas.
“Biasanya pukul 10.00 WIB baru pulang. Kalau sekarang, pukul 08.30 WIB sudah pulang karena panas banget di sawah. Yang penting tanaman aman, saya tinggal pulang,” ungkapnya.
Cuaca panas tidak hanya dikeluhkan petani. Riska Tri, seorang pekerja pabrik, juga merasakan suhu udara di rumahnya semakin gerah. Bahkan, kipas angin yang biasa digunakan untuk menyejukkan ruangan justru terasa mengembuskan udara hangat.
Ibu dua anak itu mengatakan anak-anaknya kerap mengeluhkan cuaca panas pada siang hari. Mereka juga lebih mudah berkeringat meski berada di rumah. Untuk mengurangi paparan panas selama perjalanan, Riska memilih berangkat bekerja lebih pagi.
“Sekarang pukul 08.30 WIB sudah panas banget. Akhirnya, saya berangkat ke pabrik lebih pagi supaya tidak terlalu terpapar panas. Siang pulang sebentar ngecek anak, hampir pasti sudah keringetan semua mereka,” ujarnya.
Keluhan serupa dirasakan Miftahul Jannah, salah seorang pengguna jalan. Ia mengaku lebih sering membeli air dingin untuk membantu menjaga kondisi tubuh saat beraktivitas di luar ruangan. Menurutnya, panas matahari sudah terasa menyengat sejak pagi hari.
“Iya, panas banget. Pukul 09.00 WIB saja sudah panas. Kipas di rumah juga anginnya malah hangat, jadi sudah tidak guna,” katanya.
El Niño Sangat Kuat Berpotensi Memengaruhi Curah Hujan
Prakirawan BMKG Nganjuk, Setyaris, menjelaskan kondisi cuaca di Indonesia dipengaruhi dinamika atmosfer dan suhu muka laut di sejumlah wilayah samudra.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dasarian I Oktober 2026 yang dipublikasikan BMKG pada 13 Oktober 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat sebesar +3,33 derajat Celsius. Sementara itu, indeks ENSO tiga bulanan untuk periode Agustus–September–Oktober mencapai +3,08, yang menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat. <Cite refs={[“turn796543search0”]}/>
Selain itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase positif. Kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi memengaruhi sirkulasi atmosfer dan distribusi curah hujan di Indonesia.
“Berdasarkan peta analisis dinamika atmosfer Dasarian I Oktober 2026 yang diperbarui pada 10 Oktober 2026, teridentifikasi sejumlah fenomena iklim global yang berpotensi memengaruhi pola sirkulasi atmosfer dan distribusi curah hujan di Indonesia,” ujarnya melalui siaran pers.

Leave a Reply