Asal-usul Dukuh Banyuning Sragen, dari Kisah Sendang Manten

Asal-usul Dukuh Banyuning Sragen, dari Kisah Sendang Manten
Kondisi Sendang Kakung yang berada di kompleks Punden Sendang Manten Dukuh Banyuning, Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, belum lama ini.

Floresaktual.com, SRAGEN — Deretan pohon gayam berdiri tegak di pinggir punden yang terletak di Dukuh Banyuning, Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Sragen. Di kompleks punden tersebut terdapat dua sendang yang diyakini warga sebagai Sendang Manten atau sendang pengantin karena terdiri atas Sendang Kakung (laki-laki) dan Sendang Putri (perempuan).

Kedua sendang itu menyimpan cerita tutur tentang asal-usul Dukuh Banyuning. Nama dukuh tersebut dipercaya berasal dari ungkapan bahasa Jawa banyune bening yang berarti airnya jernih. Kisah itu berkaitan dengan perjalanan Pangeran Mangkubumi saat berlangsung Perang Mangkubumen pada 1746-1755.

Kompleks Sendang Manten hingga kini masih terpelihara. Warga telah memasang paving di pelataran dan membangun tembok di sekeliling sendang. Namun, pada musim kemarau 2026, kedua sendang tersebut mengering dan tidak menyisakan air. Sebaliknya, air melimpah ketika musim penghujan tiba.

Di antara kedua sendang terdapat semacam monumen kecil yang diyakini warga sebagai simbol nisan Eyang Sastra. Sosok tersebut dipercaya sebagai cikal bakal atau danyang Dukuh Banyuning.

Sesepuh Dukuh Banyuning, Sutrisno, 58, mengatakan terdapat sejumlah pamali atau pantangan yang masih dikenal masyarakat setempat. Di antaranya, warga Banyuning tidak boleh menggunakan nama Sastra dan membangun rumah joglo.

“Bahkan ada pamali di Dukuh Banyuning. Orang Banyuning tidak boleh menggunakan nama Sastra dan tidak boleh membangun joglo. Bagi warga yang nekat melanggar pamali tersebut biasanya tidak berumur panjang,” ujar Sutrisno saat berbincang dengan Espos, belum lama ini.

Kisah Pangeran Mangkubumi dan Asal-usul Sendang Manten

Sutrisno menuturkan, keberadaan Sendang Manten berkaitan dengan cerita perjuangan Pangeran Mangkubumi melawan penjajah Belanda. Berdasarkan cerita yang diwariskan para sesepuh sebelumnya, Pangeran Mangkubumi bersama Kiai Srenggi pernah singgah untuk beristirahat di wilayah Banyuning.

Tempat persinggahan itu konon berada di kawasan rindang yang dinaungi pohon gayam berukuran besar dan dianggap sakral oleh warga.

“Di lokasi berteduh tersebut, melalui sabda Pangeran Mangkubumi, muncul titik mata air yang melimpah. Air yang kelur bening sehingga wilayah di sekitar mata air dinamai dengan Dukuh Banyuning yang berasal dari kata Jawa Banyune Bening,” ujar Sutrisno.

Seiring waktu, permukiman mulai tumbuh di sekitar sendang. Menurut Sutrisno, warga yang kala itu masih sedikit jumlahnya bergotong royong memperlebar sendang agar mampu menampung lebih banyak air. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai Sendang Manten atau Sendang Kembar hingga sekarang.

Sendang yang berukuran lebih kecil diperuntukkan bagi kaum perempuan sehingga disebut Sendang Putri. Pada zaman dahulu, para perempuan mengambil air menggunakan kelenting atau wadah tradisional untuk membawa air.

Sementara itu, sendang yang berukuran lebih besar disebut Sendang Kakung. Mantan Kepala Desa Singopadu, Warso Sukarto, juga menjulukinya Sendang Drajat atau Sendang Panyuwunan. Sendang tersebut kerap digunakan untuk tirakat oleh orang-orang yang ingin memperoleh derajat dan pangkat.

Sutrisno mengatakan kondisi sendang telah mengalami perubahan karena pembangunan tembok di sekelilingnya. Pohon gayam besar yang dahulu berdiri di sebelah Sendang Kakung kini telah ambruk dan hilang.

Ia juga masih mengingat tradisi memanen buah gayam yang dilakukan bersama warga pada 1960-an. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setempat pada masa itu.

“Dulu, air sendang tidak pernah kering saat musim kemarau. Baru 2-3 tahun terakhir, air sendang kering karena dampak dari keberadaan sumur submersible di sawah-sawah. Tradisi bersih desa masih berjalan di punden itu, terutama bagi warga di RT 011 dan RT 012. Momentum bersih desa diambil dari weton cikal bakal, yaitu Jumat Kliwon,” jelas Sutrisno.

Menurut penuturannya, setidaknya ada dua tradisi yang masih dijalankan warga, yakni sadranan setelah tanam padi dan sedekah desa setelah panen raya. Kedua kegiatan tersebut digelar sebagai wujud rasa syukur atas kehidupan dan hasil pertanian.

Sutrisno juga mengisahkan kejadian yang dianggap tidak biasa di kompleks sendang. Sebuah pohon gempol yang ambruk disebut dapat berdiri kembali secara bertahap. Ia mengingat peristiwa itu terjadi ketika Gito menjabat sebagai kepala desa sekitar 1994-1995.

“Banyak warga yang melihat fenomena tersebut,” jelas dia.

Sementara itu, Kepala Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Heru Tarwoco, mengatakan hampir setiap dukuh di wilayah desanya memiliki punden sendiri. Selain Sendang Manten, terdapat punden lain yang dianggap sakral, seperti Gunung Ngrangging dan Punden Sumber yang masih menyimpan arca dan yoni.

“Kalau melihat punden mana yang paling tua, saya tidak tahu. Kalau bagi saya sendiri yang paling tua ya di Gunung Ngrangging. Saya pernah mencari informasi dari orang-orang sepuh ternyata kebanyakan sudah meninggal dunia. Seperti Mbah Sentana di Ngrangging yang katanya tahu banyak ternyata juga meninggal dunia,” ujar dia.

Leave a Reply