Ratusan Pertunjukan Seni bakal Meriahkan Festival Payung 2026 di Kota Solo

Ratusan Pertunjukan Seni bakal Meriahkan Festival Payung 2026 di Kota Solo
Direktur Festival Payung Indonesia (Fespin), Heru Mataya (tengah), memaparkan agenda kegiatan festival tersebut kepada wartawan di Taman Balekambang, Solo, Rabu (2/9/2026). (Daerah/Dhima Wahyu Sejati)

Floresaktual.com, SOLO — Ratusan pertunjukan seni lintas disiplin dan negara bakal memeriahkan Festival Payung Indonesia (Fespin) ke-13 yang diselenggarakan di Taman Balekambang, Kota Solo, Jumat-Minggu (4-6/9/2026).

Direktur Festival Payung Indonesia, Heru Mataya, mengatakan festival tahun ini diikuti peserta dari hampir 40 kota di Indonesia serta delegasi dari mancanegara. Peserta terdiri atas 20 persen dari wilayah Soloraya dan sisanya dari berbagai daerah di Indonesia serta perwakilan negara asing seperti Tiongkok, Korea Selatan, India, Jepang, dan Pakistan.

“Selama tiga hari, akan ada 163 pertunjukan tari, musik, fashion, dan teater yang tampil secara maraton mulai pukul 09.00 WIB pagi hingga 23.00 WIB malam. Pertunjukan ini tersebar di tiga lokasi utama Taman Balekambang, yakni amfiteater, area bawah patung Partinah, dan Gedung Kesenian,” kata Heru dalam konferensi pers di Taman Balekambang Solo, Rabu (2/9/2026).

Tidak hanya menyajikan panggung hiburan, Heru menjelaskan Fespin 2026 juga memamerkan lebih dari 5.000 payung, termasuk kreasi payung rajut, perca, dan sulam. Namun, lanjutnya, para kreator dan komunitas tidak hanya memajang karya, tetapi juga terdapat workshop di berbagai zona yang tersebar di area taman.

“Konsep saya adalah memindahkan dapur kreatif mereka ke sini. Masyarakat kadang tidak hanya butuh melihat produk akhir, tetapi juga butuh melihat proses kerjanya. Jadi mereka bisa berapresiasi sekaligus ikut belajar membuat karya,” terangnya.

Selain pameran payung, ada juga pameran lukisan tingkat internasional bertema “Ibu Bumi” di Gedung Kesenian. Heru mengatakan pameran ini menghadirkan karya delegasi India, Korea Selatan, Polandia, Mongolia, dan Indonesia, yang dikurasi langsung oleh kurator asal Korea Selatan.

Catra Padi, Sepayung Dewi Sri

Tahun ini, Fespin mengusung tema Catra Padi, Sepayung Dewi Sri yang menyoroti tradisi pertanian padi dan mitologi Ibu Bumi atau dewi kesuburan dari berbagai daerah di Nusantara hingga Asia. Heru beralasan pemilihan tema Catra Padi karena ingin menjadikan tradisi padi sebagai ruang perbincangan kebudayaan yang lebih luas.

“Kita mendiskusikan sejarah padi, beras organik, hingga mitologi Dewi Sri. Di tiap daerah, figur dewi kesuburan ini bermacam-macam, ada di Jawa, NTT, NTB, bahkan di Jepang dan India juga ada. Kaitannya sangat luas dengan kebudayaan,” papar Heru.

Selain aktivitas kesenian, Fespin juga ada tradisi literasi yang dipertahankan setiap tahun. Heru menjelaskan bakal ada peluncuran buku berjudul Catra Padi. Buku tersebut merupakan hasil pemikiran dan karya dari 48 penulis.

Heru menegaskan menjadikan kolaborasi dan keterlibatan elemen masyarakat sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Selain itu, Heru memastikan seluruh kegiatan, termasuk puluhan UMKM dan Pasar Festival yang terlibat, telah melalui proses kurasi yang ketat untuk menjaga kualitas acara.

Berkaca pada tahun sebelumnya yang menyedot hingga 32.000 pengunjung, ia berharap Fespin tahun ini mampu melebihi jumlah pengunjung tahun sebelumnya dan menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif Kota Solo. Ia juga berharap festival ini akan memberikan multiplier effect atau efek berganda bagi sektor perhotelan, transportasi, hingga kuliner.

“Harapannya, festival ini berdampak secara ekonomi sekaligus memberi manfaat bagi kelestarian payung tradisi kita. Melalui kerja-kerja festival semacam ini, desa-desa perajin payung di Indonesia bisa terus tumbuh kuat dan payung tradisi kita bisa menjadi ikon pusaka Indonesia,” katanya.

Leave a Reply