Floresaktual.com, JAKARTA – Pasar mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) di Indonesia terus tumbuh pesat. Kondisi tersebut mendorong sejumlah produsen kendaraan listrik memperkuat basis manufaktur dan meningkatkan produksi lokal.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi BEV secara wholesales mencapai 83.758 unit sepanjang Januari-Juli 2026. Angka tersebut melonjak 88,62% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan 44.404 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan permintaan kendaraan listrik masih meningkat hingga pertengahan 2026. Perkembangan pasar BEV, hybrid electric vehicle (HEV), dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) juga berpotensi menopang industri otomotif pada paruh kedua tahun ini.
BYD dan VinFast Perkuat Basis Produksi
Salah satu produsen yang tengah memperkuat basis produksinya di Indonesia adalah BYD Motor Indonesia. Pabrikan asal China tersebut dijadwalkan meresmikan fasilitas manufaktur kendaraan elektrifikasi di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).
Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan fasilitas tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mengembangkan ekosistem kendaraan energi baru di Indonesia.
“Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang BYD di Indonesia, kami telah menyelesaikan pembangunan fasilitas perakitan kendaraan energi baru di Kabupaten Subang, Jawa Barat, di area seluas 126 hektare,” tulis Luther dalam undangan seremonial yang diterima Bisnis, dikutip Senin (31/8/2026).
Pabrik BYD di Subang dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit kendaraan per tahun. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari investasi BYD di Indonesia yang mencapai sekitar Rp11,2 triliun.
Keberadaan pabrik tersebut diharapkan memperluas aktivitas manufaktur, membuka peluang penyerapan tenaga kerja, serta mendorong keterlibatan industri pendukung di dalam negeri.
BYD juga terus memperluas jaringan penjualan dan layanan purnajual di berbagai wilayah Indonesia. Kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut tercermin dari rencana penyerahan unit kendaraan BYD ke-100.000 di Indonesia.
Saat ini, BYD telah memasarkan sejumlah model kendaraan di Indonesia, yakni Atto 1, Atto 3, Dolphin, Seal, Sealion 7, M6, serta M6 Dual Mode (DM).
Pertumbuhan pasar juga terlihat dari penjualan BYD. Data Gaikindo mencatat distribusi kendaraan BYD dari pabrik ke dealer atau wholesales mencapai 29.826 unit sepanjang Januari-Juli 2026, naik 81,6% yoy dari 16.427 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, penjualan ritel BYD mencapai 28.428 unit selama tujuh bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 72% yoy dibandingkan dengan 16.532 unit pada Januari-Juli 2025.
Di sisi lain, produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, juga memperkuat basis manufakturnya di Subang.
Pada tahap awal operasional, fasilitas VinFast menyerap sekitar 1.700 tenaga kerja. Perusahaan tersebut juga memproyeksikan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap.
CEO VinFast Indonesia Arunodoy Das mengatakan perusahaan terus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia melalui perluasan portofolio produk, jaringan distribusi, dan layanan purnajual.
“Kami percaya bahwa peralihan menuju mobilitas hijau membutuhkan ekosistem yang lengkap untuk memberikan pengalaman kepemilikan kendaraan yang nyaman dan bebas rasa khawatir bagi konsumen,” jelasnya, dikutip Senin (31/8/2026).
VinFast telah menginvestasikan lebih dari US$300 juta untuk pembangunan fasilitas produksi di Subang dengan kapasitas awal 50.000 unit per tahun.
Dalam jangka menengah, VinFast menargetkan total investasi di Indonesia mencapai US$1 miliar. Kapasitas produksi pabrik juga direncanakan meningkat hingga 350.000 unit per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Di pasar Indonesia, VinFast telah memasarkan sejumlah kendaraan listrik, mulai dari VF 3, VF 6, VF 7, VF MPV 7, hingga Limo Green.
Tantangan di Pasar Mobil Listrik
Di tengah pertumbuhan pasar, adopsi kendaraan listrik di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah risiko penurunan nilai jual kembali mobil listrik bekas.
Kondisi tersebut dapat terjadi ketika produsen menurunkan harga mobil baru secara agresif atau meluncurkan model dengan teknologi yang lebih baik pada harga yang lebih rendah.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan harga kendaraan bekas berkaitan erat dengan biaya untuk memperoleh kendaraan baru yang setara.
“Ketika harga kendaraan baru turun signifikan atau hadir model baru dengan teknologi yang lebih baik dan harga lebih murah, kendaraan lama harus menyesuaikan harga agar tetap menarik bagi konsumen,” ujar Josua kepada Bisnis.
Menurutnya, pemilik awal mobil listrik menghadapi risiko depresiasi lebih besar ketika harga kendaraan dan teknologi berkembang cepat.
Kondisi baterai, sisa masa garansi, teknologi pengisian daya, serta ketersediaan jaringan layanan turut memengaruhi nilai jual kembali kendaraan listrik.
Namun, penurunan harga mobil listrik bekas juga berpotensi memperluas pasar. Kendaraan listrik bekas dengan harga di bawah Rp150 juta, bahkan mendekati Rp100 juta, dapat menarik konsumen yang sebelumnya hanya memiliki pilihan kendaraan bekas berbahan bakar minyak.
“Namun, harga setiap unit akan semakin bergantung pada kondisi baterai, riwayat perawatan, sisa garansi, serta kekuatan jaringan layanan dari masing-masing merek,” katanya.
Josua menilai industri perlu mendorong transparansi informasi mengenai kondisi baterai, termasuk melalui standar pemeriksaan atau sertifikasi yang dapat menjadi acuan bagi konsumen dan lembaga pembiayaan.
Kepastian mengenai kesehatan baterai dan mekanisme pemindahan garansi dinilai dapat mengurangi ketidakpastian sekaligus membantu membentuk harga mobil listrik bekas yang lebih rasional.
Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Pasar Mobil Listrik Tumbuh Pesat, BYD-VinFast Perkuat Basis Manufaktur“

Leave a Reply