Bersama-sama Selamatkan Generasi Penerus dari Stunting

Bersama-sama Selamatkan Generasi Penerus dari Stunting
Kader Posyandu di Desa Pucanganom, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, mendistribusikan paket makanan tambahan bagi anak stunting, Jumat (14/8/2026). (Abdul Jalil/Espos)

Floresaktual.com, MADIUN — Matahari belum sepenuhnya muncul ketika Titik Ernawati bersama rekannya mengendarai sepeda motor sambil membawa tote bag berisi paket menu program Pemberitan Makanan Tambahan (PMT) pada Jumat (14/8/2026). 

Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Desa Pucanganom, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, itu menyusuri jalan beton di desa untuk membagikan satu per satu makanan kepada anak stunting yang menjadi sasaran. 

Erna kemudian berhenti di salah satu rumah. Tampak seorang anak berusia bawah lima tahun (balita) beserta ibu dan neneknya sedang menunggu di depan teras rumah. Dengan penuh keramahan, Erna kemudian memberikan paket makanan PMT kepada anak bernama Olivia yang kini berusia tiga setengah tahun. 

“Olivia mau makan nasi tidak?” kata Erna. 

“Makan nasinya sulit. Lebih banyak ngemil,” jawab ibu Olivia, Retno Ayu. 

“Kalau gitu kasih kudapan yang ada kandungan potein dan karbohidratnya. Supaya gizi anak terpenuhi,” ujar Erna. 

Olivia merupakan satu dari sembilan anak balita yang mengalami stunting  di Desa Pucanganom. 

Setelah di rumah Olivia, Erna kemudian melanjutkan kunjungan ke rumah anak balita stunting lainnya. Setelah menempuh jarak sekitar 1 kilometer, ia kemudian berhenti di salah satu rumah yang halamannya luas dan rumahnya tembok. 

Di rumah ini, seorang anak bernama Fadila Putri juga menjadi sasaran program pengentasan stunting. Anak berusia dua setengah tahun itu telah menjalani pendampingan sejak beberapa bulan lalu. 

Ibu Fadila, Fitriana, menyampaikan sebenarnya anaknya doyan makan. Keluarga juga telah memastikan makanan yang dikonsumsi memiliki kandungan gizi. 

“Berat badan anak saya sekarang sudah 8,6 kilogram. Sudah ada kenaikan, meski sedikit-sedikit,” ujar dia. 

Meski tidak langsung signifikan, pertumbuhuan sedikit demi sedikit menjadi bagian penting dalam perjuangan melawan stunting. 

Fitriana mengaku sangat terbantu dengan pendampingan yang dilakukan petugas Posyandu. Menurut dia, dengan pendampingan tersebut, ia merasa terbantu karena bisa mendapatkan pengetahuan tentang gizi. Selain itu perkembangan anaknya juga semakin terpantau karena setiap pekan dipantau secara rutin. 

Intervensi Gizi

Erna selaku koordinator kader Posyandu Desa Pucanganom mengatakan program pemberian makanan tambahan ini sudah dimulai sejak awal 2026. Setiap hari, anak-anak yang menjadi sasaran ini akan mendapatkan makanan tambahan. 

Bukan orang tua yang mengambil makanan, tetapi kader Posyandu akan mengirim paket makanan bergizi itu ke rumah masing-masing anak sasaran. Program ini penting untuk memperbaiki gizi anak. 

Dia mengatakan jumlah anak stunting setiap tahun semakin turun. Pada tahun lalu, terdata ada sebanyak 25 anak yang teridentifikasi mengalami stunting. Setelah menjalani pendampingan dan pemantauan gizi secara ketat, jumlah anak stunting turun menjadi sembilan orang pada tahun ini. 

Proses ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Butuh ketelatenan dan pemantauan secara rutin supaya tumbuh kembang anak bisa terdeteksi secara tepat.

Pemberian makanan tambahan menjadi salah satu langkah yang dilakukan. Namun, bukan itu saja, setiap hari kader Posyandu juga melakukan pencatatan secara detail mengenai kondisi tumbuh kembang anak. Semua perkembangan tercatat dalam form khusus. 

“Jadi kami ada kontrol harian yang berisi mengenai kondisi anak. Seperti apakah makanan tambahan yang diberikan habis atau tidak. Kalau ada makanan yang tidak habis apa alasannya. Itu akan menjadi evaluasi untuk pemberian makanan tambahan hari berikutnya,” jelas dia kepada Espos, Jumat. 

Untuk makanan yang diberikan pun sudah ditakar kandungan gizi dan keragaman menunya. Sehingga anak-anak sasaran tidak bosan dengan menu yang diberikan setiap hari. 

Erna mencontohkan menu pertama berisi ayam katsu, kentang goreng, dan satu potong roti bakar. Menu kedua berupa opor ayam, nasi, dan pudding labu susu. Menu tiga berisi bakso telor, pangsit goreng, dan pisang. Kemudian ada tujuh menu lainnya. 

“Jenis menunya ada 10, jadi setiap hari berbeda. Biar anaknya tidak bosan,” katanya. 

Kualitas Makanan Terjaga

Makanan tambahan yang diberikan ke anak-anak stunting sasaran ini diproduksi sendiri oleh kader Posyandu Pucanganom. Hal ini supaya menu dan kandungan gizi bisa dikontrol dan sesuai dengan saran dari ahli gizi. 

Produksi makanan bergizi ini tidak bisa dilepaskan dari tangan Binti Mubayanah. Ia diberi tugas memproduksi makanan tambahan bergizi untuk anak stunting sasaran. 

Kader Posyandu di Desa Pucanganom, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, mendistribusikan paket makanan tambahan bagi anak stunting, Jumat (14/8/2026). (Abdul Jalil/Espos)
Kader Posyandu di Desa Pucanganom, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, mendistribusikan paket makanan tambahan bagi anak stunting, Jumat (14/8/2026). (Abdul Jalil/Espos)

Setiap hari, perempuan berusia 45 tahun itu mulai menyiapkan bahan makanan sejak pukul 04.00 WIB. Setiap hari ia harus memproduksi makanan tambahan bergizi itu sebanyak sembilan porsi, sesuai dengan jumlah anak sasaran. 

“Karena makanan tambahan ini kan dibagikan pada pagi hari, jadi saya mulai masak subuh. Supaya saat sampai di tangan penerima, makanannya masih fresh,” ujarnya, Jumat. 

Setelah semua masakan matang, Binti kemudian menyiapkan pemorsian setiap paket makanan. Setiap menu makanan ditata rapi di wadah yang telah disiapkan. Nantinya ada kader lain yang mengambil dan mengantarkannya ke anak-anak sasaran. 

Untuk setiap menu, kata Binti, sudah ada takaran porsi per masing-masing menu. Seperti menu bakso telur, ukuran per porsinya terdiri dari daging ayam 20 gram, telur puyuh 2 gram, dan lainnya. 

“Semua sudah ditentukan oleh tim ahli gizi dari Puskesmas Kebonsari. Kami sebagai pelaksana hanya menjalankan, memasaknya,” ujarnya. 

Perlu Kolaborasi

Permasalahan stunting ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Perlu keterlibatan berbagai pihak, termasuk komitmen orang tua untuk memperbaiki gizi anak. Menurut Erna, kasus anak stunting tidak selalu berasal dari keluarga tidak mampu, beberapa kasus di Pucanganom justru merupakan keluarga dengan ekonomi mapan. 

Pola asuh dan lingkungan menjadi salah satu faktor yang membuat anak menjadi stunting. Dengan demikian, peran orang tua sangat besar dalam hal ini. Kebutuhan gizi harus disedikan orang tua di setiap makanan yang disediakan untuk sang anak. 

“Kami memperhatikan setiap asupan makanan yang diberikan ke anak. Makanya kader juga selalu mengingatkan para orang tua sasaran untuk memberikan protein hewani di setiap makanan yang diberikan ke anak,” jelasnya. 

Dukungan dari pemerintah juga diperlukan untuk percepatan penanganan kasus stunting. Selain dukungan kebijakan, anggaran penanganan stunting juga sangat penting. 

Bupati Madiun, Hari Wuryanto, mengatakan anggaran penanganan stunting di Kabupaten Madiun tahun ini dinaikkan. Dari sebelumnya Rp160 juta, tahun ini menjadi Rp246 juta. 

Menurut Hari, penanganan persoalan stunting tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi perlu kolaborasi. 

“Penanganan stunting ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kami juga mendorong keterlibatan aktif pada ayah dalam pengasuhan anak serta penguatan budaya gotong royong masyarakat desa dalam mendukung sarana prasarana kesehatan,” jelas Hari kepada Espos, Selasa (11/8/2026). 

Permasalahan anak stunting menjadi permasalahan nasional. Angka anak stunting masing tinggi. Kementerian Kesehatan melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) secara resmi mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Hasil survei ini menunjukkan prevalensi stunting tahun 2024 mencapai 19,8%. Angka ini lebih rendah dari target prevalensi stunting yang ditetapkan pada 2024 sebesar 20,1%. 

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, menegaskan penanganan kasus anak stunting ini memerlukan kolaborasi lintas sektor. Kolaborasi yang dilakukan harus pas dengan implementasi di tingkat rumah tangga. 

“Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk. Maka yang terpenting adalah membangun quality time antara bapak, ibu, dan anak. Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat,” kata Veronica yang dikutip dari siaran pers. 

Begitu juga keterlibatan pihak swasta dalam mengentaskan kasus stunting dan perbaikan gizi anak juga sangat penting. Seperti yang dilakukan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) melalui program JAPFA for Kids. Program ini bertujuan untuk mengatasi masalah gizi pada anak. 

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menyampaikan program ini menjalankan berbagai strategi terintegrasi mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi pelajar dengan kondisi malgizi. Kemudian ada pemantauan rutin dan tinggi badan pelajar melalui aplikasi digital, serta pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA. 

“Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten,” kata Retno yang dikutip dari laman resmi JAPFA, Minggu (30/8/2026). 

Hingga 2025, program ini telah menjangkau sebanyak 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah yang tersebar di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia. 

Pentingnya Pemenuhan Protein Hewani

Sementara itu, pakar gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Sandra Fikawati, mengatakan salah satu intervensi spesifik untuk menurunkan angka stunting yakni dengan memberikan makanan tambahan protein hewani pada anak. 

Bukan hanya daging, kata dia, makanan tambahan protein hewani bisa dipenuhi dengan mengonsumi satu butir telur setiap hari pada anak usia 6 hingga 23 bulan. Fikawati menjelaskan protein hewani memiliki zat gizi makro dan mikro. Selain itu, protein hewani juga mengandung zat gizi yang sulit ditemui pada pangan nabati. Zat mikro yang dikandung juga lebih mudah diserap oleh tubuh. 

“Mutu protein juga bernilai tinggi dengan asam amino esensial lengkap ketimbang protein nabati dan kandungan anti-nutrient yang rendah,” kata Fikawati yang dikutip dari stunting.go.id, Minggu (30/8/2026). 

Menurut Fikawati, protein hewani juga mengandung insulin-like growth faktor-1 (IGF-1) yang dapat meningkatkan tinggi badan. Bahkan dalam temuan terbaru, protein hewani juga bisa menurunkan risiko obesitas. 

Tubuh membutuhkan sebanyak 20 jenis asam amino. Sembilan di antaranya adalah asam amino esensial yang harus didapatkan dari makanan. 

Lebih lanjut, dia menjelaskan protein hewani memiliki asam amino esensial yang lebih banyak dibandingkan dengan protein nabati. Namun, konsumsi susu dan makanan sumber hewani lainnya di negara berkembang masih sangat terbatas. 

Dia menjelaskan ada penelitian yang menyebutkan bahwa sekitar 87% anak Indonesia usia 6-59 bulan hanya mengonsumsi biji-bijian, seperti nasi dan roti. Sedangkan untuk konsumsi telur, kacang-kacangan, serta sumber hewani masih cukup rendah. 

Oleh karena itu, Fikawati menegaskan untuk mempercepat penurunan stunting dibutuhkan keterlibatan sektor swasta secara aktif. Hal ini karena pemerintah tidak bisa bekerja sendirian dalam mengatasi masalah ini. 

Indonesia Emas 2045

Setelah memastikan makanan sampai ke tangan anak-anak sasaran, Erna Kembali menyusuri jalan desa. Sedangkan di dapur rumahnya, Binti bersiap mengulang rutinitas yang sama untuk keesokan pagi, menyiapkan sembilan porsi makanan bagi sembilan anak yang sedang berjuang mengejar pertumbuhan. 

Bagi mereka, langkah itu mungkin terlihat sederhana. Namun, dari meja timbang Posyandu dan dapur rumah, masa depan sedang dibangun. Sebab, Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang kemajuan ekonomi, namun juga tentang generasi yang sehat dan berkualitas. Menyelamatkan satu anak dari stunting berarti menyelamatkan satu bagian dari masa depan Indonesia. 

Leave a Reply