Floresaktual.com, SEMARANG — Di tengah perkembangan layanan kesehatan modern, jasa cuci mata tradisional di Kota Semarang masih eksis dan diminati masyarakat. Dengan tarif hanya Rp5.000, layanan ini tetap menjadi pilihan sebagian warga untuk meredakan ketidaknyamanan pada mata setelah beraktivitas di luar ruangan.
Ari, warga Semarang Tengah, bergegas menuju lapak sederhana di pinggir jalan samping pintu masuk kawasan Alun-alun Kauman Kota Semarang usai menempuh perjalanan dari Kendal dengan sepeda motor. Tujuannya sederhana: membersihkan mata di jasa cuci mata tradisional yang sudah lama dia kenal.
Tanpa banyak basa-basi, pria berusia 53 tahun itu langsung duduk dan menjalani proses pembersihan mata. Baginya, rutinitas ini sudah menjadi kebiasaan, terutama setelah aktivitas luar ruangan yang membuat mata terasa tidak nyaman.
“Langsung ke sini buat bersihin mata. Saya habis perjalanan ke luar kota naik motor. Matanya sekarang sudah cerah lagi,” ucap Ari setelah menjajal jasa cuci mata, Selasa (14/4/2026) sore.
Ari mengaku sudah menjadi pelanggan tetap selama tiga tahun terakhir. Lokasi lapak yang dekat dengan tempat kerjanya membuat dirinya kerap singgah saat merasa penglihatannya mulai terganggu.
Bahkan terakhir kali dia memanfaatkan jasa cuci mata tersebut sekitar dua minggu yang lalu. Menurutnya, metode tradisional dengan bahan herbal membuat mata terasa lebih nyaman dibandingkan cara pembersihan mata lainnya.
“Sudah langganan lama, saya kantornya daerah sini sering lihat. Rasanya setelah cuci mata itu kayak kotorannya keluar semua, banyak manfaatnya, matanya jadi lebih enak,” imbuhnya.
Pengalaman berbeda dirasakan Muhammad Iqbal yang merupakan pelanggan baru dan pertama kali mencoba layanan tersebut. Dia mengaku penasaran setelah melihat jasa cuci mata tersebut viral di media sosial.
“Saya rasa unik ya, pengalaman pertama cuci mata ini. Biasanya treatment mata itu pakai cairan atau obat tetes,” ujar Iqbal.
Iqbal sempat merasakan sedikit perih saat cairan daun sirih mulai disemprotkan ke matanya. Namun sensasi itu tidak berlangsung lama dan justru matanya menjadi lebih segar.
“Pas dicuci, waktu air sirih mengalir itu agak perih sedikit, tapi setelah itu rasanya segar. Setelah selesai, mata terasa lebih enteng,” ungkap pria asal Jawa Timur tersebut.
Dia menilai layanan tersebut cukup terjangkau dan layak dicoba. Hanya dengan mengeluarkan Rp5.000, masyarakat sudah bisa merasakan perawatan mata sederhana dengan hasil yang cukup memuaskan.
Usaha Turun-Temurun Sejak 1960-an
Di balik layanan sederhana itu, terdapat sosok Muhammad Alwi, 45, yang meneruskan usaha jasa cuci mata dari keluarganya. Dia menyebut usaha tersebut telah berdiri sejak 1960-an dan dirintis oleh ayahnya.
“Ini usaha dari bapak, dulu [bukanya] di Pasar Johar. Saya teruskan sampai sekarang setelah bapak meninggal,” ujar Alwi.
Alwi mengaku telah memegang usaha yang diwariskan ayahnya sejak 2016. Perlengkapan yang dibawanya pun sederhana, berupa meja, kursi, cairan daun sirih, obat tetes mata, tisu, serta papan penanda berwarna mencolok bertuliskan ‘Cuci Mata Boor Water’ mengobati mata merah, kotor, iritasi, hingga rabun dengan tarif Rp5.000.
“Jasanya untuk membersihkan mata, pakai daun sirih. Disemprotkan saja ke mata, nanti kotorannya keluar, habis itu bersih. Prosesnya nggak lama, paling dua menit. Sambil dipijat juga biar kotorannya keluar,” paparnya.
Proses pembuatan cairan daun sirih juga tergolong sederhana hanya dengan merebus daun sirih hingga matang lalu didinginkan sebelum dimasukkan ke dalam botol. Praktik membersihkan mata menggunakan daun sirih ini disebut sebagai tradisi masyarakat Jawa yang sudah dikenal sejak lama.
Lebih lanjut, dia membuka lapak mulai pukul 15.00 hingga 21.00 WIB. Pelanggannya datang dari berbagai wilayah di Semarang seperti dari Genuk, Kaligawe, Mangkang, Sampangan dan lain-lainnya.
“Pelanggan yang datang ada yang baru, ada juga pelanggan lama. Biasanya yang sudah tua punya masalah rabun atau katarak. Kalau lagi ramai sehari biasa dapat [penghasilan] sekitar Rp50.000, hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari,” tandasnya.
Di tengah perubahan zaman, keberadaan jasa cuci mata tradisional di Semarang menjadi pengingat bahwa perawatan berbasis herbal dan tradisi masih memiliki tempat dan kepercayaan di tengah masyarakat.

Leave a Reply