Floresaktual.com, SOLO — Perhelatan Solo Menari 2026 resmi dibuka di kawasan Balai Kota Solo, Selasa (28/4/2026). Selama dua hari penyelenggaraan Selasa hingga Rabu (29/4/2026), sebanyak 70 grup seni tari dari berbagai penjuru Tanah Air dijadwalkan tampil memeriahkan panggung perayaan Hari Tari Dunia tersebut.
Direktur Solo Menari 2026, Heru Mataya, menjelaskan puluhan kelompok seni tersebut secara khusus menjadikan kipas sebagai sumber inspirasi dan kreasi utama dalam setiap koreografi yang dibawakan.
”Nanti malam [Selasa] ada pertunjukan dari 30 grup kesenian se-Indonesia. Selanjutnya pada Rabu malam harinya ada 40 pertunjukan tari. Jadi total dari dua hari pertunjukan ada 70 grup seni se-Indonesia, dan kipas menjadi sumber inspirasi,” terang Heru saat ditemui wartawan di sela-sela pembukaan acara, Selasa.
Selain penampilan puluhan grup seni secara bergantian, puncak perayaan Solo Menari pada hari kedua, Rabu (29/4/2026) sore pukul 15.00 WIB, akan ditandai dengan atraksi tari kolosal. Heru menyebut pergelaran ini melibatkan 1.500 penari serta ratusan pemusik, sehingga total pengisi acara mencapai 1.700 orang.
Atraksi akbar tersebut akan mengambil tempat di Titik Nol Kota Solo, tepat di depan pagar Balai Kota. ”Ini salah satu panggung bersejarah yang kami coba gunakan agar Solo Menari lebih bermakna. Tidak sekadar tempat biasa, tapi di Titik Nol tersebut panggung menjadi satu ruang untuk mengenal sejarah sekaligus mengekspresikan diri melalui tari kipas,” paparnya.
Selain pertunjukan, Heru mengatakan hari pertama pembukaan Solo Menari 2026 juga disemarakkan dengan beragam agenda edukasi budaya dan ekonomi kreatif. Heru mencontohkan hadirnya Akademi Sanggul Nusantara yang mengajari sekitar 120 peserta dari kalangan pelajar dan komunitas untuk mempraktikkan cara memakai sanggul dengan langkah praktis dan menyenangkan.
Pojok Konsultasi HKI
Di lokasi yang sama, pengunjung juga bisa menikmati Pameran Kipas Nusantara untuk menelusuri sejarah kipas, mengikuti lokakarya melukis kipas, hingga melihat langsung para perajin mendemonstrasikan proses pembuatannya.
Heru mengatakan juga ada pojok konsultasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di tengah hiruk-pikuk acara. Fasilitas ini sengaja dihadirkan guna mengedukasi para pelaku seni betapa pentingnya legalitas sebuah karya tari maupun kriya.
”Harapan kami, dengan banyaknya komunitas grup berkumpul di sini, mereka bisa memanfaatkan pojok konsultasi ini untuk mendaftarkan karyanya. Ini menjadi satu langkah strategis agar mereka bisa mengamankan karya-karyanya,” jelas Heru.
Kemudian, Heru mengatakan acara turut ditunjang dengan hadirnya pasar festival yang menjajakan produk kerajinan dan fashion. Berbeda dari tahun lalu, Heru mengatakan kali ini panitia menyajikan festival kuliner Nusantara yang secara khusus juga menghadirkan Pojok Kuliner Maluku dan Bali.
Di kedua pojok kuliner tersebut, Heru mengatakan pengunjung tidak sekadar bisa mencicipi makanan khas daerah. Mereka juga mendapat kesempatan berdialog langsung dengan para pegiat budaya dari Maluku dan Bali mengenai beragam pernik-pernik tradisinya.

Leave a Reply